Senin, Juni 15, 2009

BUKIT BINTANG [ cerpen karya ashoy * ]

cerpen ini d buatt asli buatan ak .. mskipun crita ny rada katro' & pasaran .. yg pnting tugas cerpen b. INDONESIA ny udah masuk ..

hahaha :D

GJ abis lahh pko ny ..




Tik .. Tik .. Tik ..


Terdengar langit Bandung sedang memercikkan air matanya secara bersamaan. Seiring dengan kesedihan yang dialami Dea saat ini. Alunan musik Glenn Fredly pun menggema hingga sudut kamarnya. Dea menatap ke arah luar jendela kamarnya, kemudian air mata jatuh ke pipi merahnya. Digenggamnya sebuah foto laki-laki yang pernah mengisi ruang di hatinya. Lelaki itu berpostur tinggi, berkulit putih, dan cukup tampan. Ia adalah kekasih Dea, namanya Egi. Dea sungguh tidak percaya kisah cintanya berakhir sungguh tragis. Sangat tragis tentunya. Akan tetapi, Dea sangat mencintai Egi. Namun saat ini jangan pernah menyebut nama Egi bila sedang di hadapan Dea. Karena ia akan membalikkan tubuhnya, kemudian mengurung diri di kamarnya. Mama Dea sangat khawatir dengan putri semata wayangnya itu.


Tok .. Tok .. Tok ..


Mama Dea mengetuk pintu kamar Dea. Ia membawa sepotong kue brownies dan segelas susu murni untuk putrinya. Tetapi pintu kamar Dea masih terkunci. Selama beberapa menit kemudian …

Dea segera menyeka air matanya dan membukakan pintu kamarnya. Mama Dea sungguh kaget dengan keadaan putrinya yang semakin hari semakin aneh. Ditambah mata Dea yang sembab dan cukup bengkak sehabis menangis.

“ Kamu kenapa, sayang ? ” Ucap Mama Dea. Ia segera menaruh kue dan susunya ke meja belajar Dea, kemudian memeluk putrinya. Kemudian diraihlah foto yang ada di genggaman Dea.

“ Egi.. Hmm.. Ya, mama tahu perasaan kamu, nak. Tapi kamu tidak boleh larut dalam kesedihan ini. Mama tidak mau kamu kenapa-kenapa. Kamu harus tegar, sayang. ” Rayu Mama Dea sambil mengusap-usap rambut Dea yang masih di pelukannya. Hangatnya pelukan Mama Dea membuat Dea nyaman. Sehingga ia dapat menghentikan isakannya.


Selama beberapa menit kemudian, hujan pun berhenti.

“ Lihat ! Hujan saja bisa berhenti . Tapi kenapa air mata Dea tidak? Ayolah, sudah beberapa minggu ini mama tidak melihat lesung pipimu, sayang. Mama ingin melihatnya sekarang. Yang mama lihat hanyalah bibirmu saja yang semakin maju seperti Omas dan matamu bengkak seperti ditinju Mike Tyson. Hahaha..” Hibur Mama Dea sambil mencubit bibir Dea. Sepertinya Mama Dea berhasil. Dea pun tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya kepada mamanya. Sungguh cantiknya Dea saat ia tersenyum manis.


Angin sepoi-sepoi Sabtu sore mengibaskan rambut Dea yang panjang. Terlihat Dea sedang menulis di buku diary-Nya di balkon rumah dengan tubuh telungkup.

Bandung, 11 Juli 2008

Dear diary,

Tepat dua minggu yang lalu, adalah hari kelabu bagiku. Aku kehilangan kekasihku, belahan jiwaku, cinta matiku, serta sahabatku. Egi Fardiansyah Prasedhana. Ia meninggalkanku untuk selama-lamanya.Tapi aku cukup lega, karena Egi sudah tidak merasakan sakit kanker otak yang dideritanya lagi. Kini dia sudah tenang di surga. Akan tetapi, aku tahu bahwa Egi juga sedih di alam sana, karena ia tidak dapat mengulang masa-masa bahagianya denganku lagi.Tidak dapat melakukan apa yang pernah ia lakukan semasa hidupnya dulu.

Namun, 2 hari mendatang adalah hari ulang tahunku. Tadinya aku berencana merayakan hari ulang tahunku hanya bersama Egi di Bukit Bintang.Tempat yang selalu aku impikan. Dan sampai saat ini, aku tidak dapat memenuhi keinginanku itu. Kini Egi sudah pergi dan meninggalkan sejuta kenangan. Dan aku harus merayakan hari ulang tahunku yang ke-16 ini. Mungkin aku merayakannya bersama teman-temanku di Pizza Hut, seperti tahun lalu. Padahal aku ingin merayakan ulang tahunku hanya dengan Egi. Tidak perlu pesta besar-besaran dan makan-makan, Aku hanya ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa aku telah dewasa dan sangat mencintai Egi.

Egi, aku hanya selalu mendoakanmu dari sini. Aku yakin, kau selalu ada di dekatku. Meskipun kau tak ada di hadapanku, tetapi kau selalu ada di jiwa dan hati ini. Egi, aku sayang kamu.


Dea menutup buku diary-Nya. Kemudian menghembuskan napasnya. Tak lama kemudian, Mama Dea memanggilnya karena ada telepon dari sahabatnya, Cikha. Lalu Dea berlari menuruni tangga, kemudian menjawab telepon dari Cikha. Nampaknya mereka berdua sangat rindu karena sudah lama tidak bertemu karena sekolah mereka diliburkan. Setelah mereka bercakap-cakap, tak terasa matahari sudah hampir terbenam. Mereka pun segera memutus pembicaraannya.


Malam hari pun tiba. Malam ini langit begitu cerah. Bintang-bintang bertaburan dan mengedipkan sinarnya yang begitu indah. Bulan pun terang benderang, bentuknya bulat sempurna seperti apa yang pernah Dea dan Egi lihat semasa Egi masih ada. Malam ini malam Minggu. Dimana para remaja keluar bersama pasangannya dan bermesraan. Akan tetapi, bagaimana dengan Dea? Ia hanya duduk di balkon rumahnya melihat bulan dan bintang seperti yang sering ia dan Egi lakukan setiap malam Minggu. Lalu Dea memutar lagu Kisah Cintaku dari Peterpan di iPod-Nya. Dan Dea pun tersenyum. Ia ingat kata-kata Egi, “ Bulannya bagus, ya? Aku ingin kita selalu dapat bersama dan melihat bulan itu di hari ulang tahunmu nanti. Aku ingin memberikannya padamu sebagai hadiah ulang tahun dariku. Dan kau akan kuberi kejutan di tempat yang kau impikan. Ya Tuhan, terima kasih karena engkau telah memberiku hadiah seorang gadis kecil yang lucu ini sebagai belahan jiwaku. ”


Ya, keinginan mereka memang tidak muluk-muluk. Cita-cita mereka berdua hanyalah selalu hidup bersama dan pergi ke tempat yang mereka berdua impikan. Andaikan Egi masih disini, Dea pasti akan memeluknya sepenuh hati.

“ Di malam yang sesunyi ini aku sendiri tiada yang menemani. Akhirnya kini kusadari dia telah pergi tinggalkan diriku. Adakah semua ‘kan terulang kisah cintaku yang seperti dulu? Hanya dirimu yang kucinta dan kukenang …………… “ Dea menyanyikannya dengan suaranya yang merdu sambil melihat ke arah langit malam yang indah.

Lalu Mama Dea menghampirinya yang sedang berdiri di balkon. Kemudian ia mendekati Dea.

“ Dea, kemarin adalah kenangan, hari ini adalah apa yang harus kita hadapi, dan esok hari adalah sebuah misteri. ” Ucap Mama Dea ke telinga Dea dengan suara pelan. Kemudian ia menepuk pundak Dea dan memeluknya.

“ Iya, ma. Aku juga sudah ikhlas. Jasad Egi memang bukan untuk aku. Tetapi aku yakin, hati dan jiwa Egi adalah untukku.” Dea tersenyum menatap mamanya. Nampaknya Dea sudah cukup ikhlas menerima kepergian Egi.Dea semakin cantik karena akhir-akhir ini ia menjadi sering tersenyum daripada hari–hari sebelumnya. Mama Dea pun tersenyum.


Keesokan harinya, langit sungguh cerah. Matahari bersinar terang, menunggu keceriaan Dea yang sempat hilang. Burung-burung berkicau seakan mengajak Dea untuk kembali ceria seperti dulu lagi. Dea siap-siap berangkat untuk menemui Cikha. Mereka berdua sepakat untuk pergi ke Ciwalk sekedar untuk cuci mata dan merencanakan perayaan ulang tahun Dea yang tinggal sehari lagi. Dea pun pergi bersama Cikha dengan mobilnya.


Di Ciwalk, Cikha mengajak Dea masuk ke salah satu café yang paling pojok. Mereka berdua pun masuk ke dalam café tersebut. Dea kembali mengenang masa lalunya. Wajahnya kembali muram. Alisnya berkerut. Itu adalah tempat Dea dan Egi bertemu pertama kalinya. Ia melihat bangku kosong paling belakang dekat jendela. Berharap masa lalunya akan kembali terulang. Egi yang menyapa Dea dan berkenalan dengannya, Egi yang memberikannya secangkir coklat hangat untuknya, dan canda tawa mereka berdua. Tapi tidak mungkin. Akan tetapi, ia harus ingat, bila Dea menangis, Egi pun akan menangis melihatnya.

Beberapa saat kemudian, mereka membicarakan rencana perayaan ulang tahun Dea. Namun pada ulang tahun kali ini, Dea tidak akan merayakannya besar-besaran. Ia hanya ingin merayakannya di rumahnya saja. Itupun hanya sekedar tiup lilin, berdoa, dan potong kue saja. Sederhana sekali. Akhirnya, mereka berdua pun pulang karena matahari sudah mulai lelah melaksanakan tugasnya.

Di rumah, Dea membaca satu persatu isi diary-Nya. Mulai dari ia berkenalan dengan Egi sampai dengan hari menjelang ulang tahunnya. Dea tersenyum melihatnya. Akan tetapi, air matanya jatuh ke buku diary-Nya. Ia menghembuskan napasnya. Lalu menutup buku diary-Nya. Ia penasaran dengan apa yang terjadi hari esok di hari ulang tahunnya. Ia membaringkan tubuhnya, kemudian menutup kedua mata cantiknya. Dipeluknya buku diary itu.


Pagi ini, begitu cerah dan langit tampak begitu sangat indah. Pelukan hangat dan ucapan selamat ulang tahun yang keluar dari mulut Mama Dea membangunkan Dea dari tidur lelapnya. Dea terharu, lalu mencium mamanya.


Beep.. Beep.. Beep..


Dering pesan dari handphone Dea menyemangatkannya untuk menjalani hari ini dengan penuh keceriaan. Diambilnya handphone Dea, lalu ia terkejut karena sudah terdapat 13 pesan di handphone-Nya. Tidak lain adalah dari para temannya. Sesaat kemudian, ia terkejut karena mendapat satu pesan dari Egi. Jantung Dea berdetak kencang sekali seakan Egi masih ada. Tetapi setelah ia baca, pesan itu adalah dari Ega, kakak Egi yang meminjam nomor Egi. Dea sedikit kecewa karena itu memang bukanlah Egi.


Ting.. Tong.. Ting.. Tong..


Bel berdering. Dea langsung membukakan pintu rumahnya.


“ Kejutan !! “ Sorak sahabat-sahabat Dea. Dilihatnya sebuah kue bolu kesukaannya dan lilin angka 16 yang menunjukkan dirinya bukanlah anak kecil lagi. Dea kaget dan terharu. Ia memeluk sahabat-sahabatnya. Lalu ia meniup lilinnya dan membuat sebuah permintaan. Permintaannya adalah agar ia lebih dewasa dan dapat bertemu Egi di hari ulang tahunnya. Entah permintaan Dea dapat tercapai atau tidak, tetapi Dea tetap yakin, bahwa dirinya dapat bertemu dengan orang yang sangat dicintainya.


Dea dan sahabat-sahabatnya menuju ke ruang tengah. Lalu Dea memotong kue. Dan kue pertama adalah untuk mamanya tersayang. Dan kue yang kedua, ia letakkan di atas meja. Teman-teman Dea bingung. Lalu mereka mengerti, rupanya kue itu adalah untuk Egi. Mereka mengira, bahwa Dea sudah sedikit gila. Tapi mereka mengerti, kasih cinta Dea sudah sangat besar untuk Egi dan sulit untuk dilepaskan.


Kemudian, mereka meberikan Dea sebuah kado yang cukup besar. Saat dibuka, isinya adalah sebingkai foto-foto Dea yang isinya mulai dari Dea bahagia sampai dengan sedih. Dilihatnya satu buah foto kecil. Disana terlihat foto Dea dan Egi sedang bermain ayunan sambil makan es krim. Dan terdapat satu kartu ucapan yang isinya adalah “ Selamat ulang tahun, Dea. Semoga kamu panjang umur, sehat, tetap pintar, dan dewasa. Masa lalu hanya untuk dikenang. Pikirkanlah ke depan. Jalani hari esok dengan keceriaan. Kami rindu senyumanmu.” Dea tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


Di malam hari, Dea berbaring di tempat tidurnya. Ia cukup lelah dengan hari ini. Lalu ia membuka buku diary-Nya lagi. Ia membaca buku diary-Nya sambil berjalan ke balkon rumahnya. Didapatinya langit yang sangat indah. Begitu cerah, seluruh bintang-bintang bertaburan dan berkelap-kelip mengedipkan cahayanya ke arah wajah Dea. Bulan purnama yang berbentuk bulat sempurna serta cahayanya yang terang menerangi wajah Dea yang cantik. Tersentak ia dikagetkan kembali dengan perkataan Egi, bahwa Egi ingin mereka selalu dapat bersama dan melihat bulan yang mereka lihat di hari ulang tahun Dea. Ia ingin memberikannya kepada Dea sebagai hadiah ulang tahun darinya. Dan ia akan memberi kejutan di tempat yang Dea impikan.


Dea berlari menuju kamarnya dan ganti baju. Tidak lupa ia membawa buku diary-Nya dan barang-barang kenangan Egi dan Dea. Lalu ia pamit kepada mamanya dan berlari menuju mobilnya. Dan ia bergegas pergi ke tempat yang ia impikan.

Ia harus mencapai impiannya untuk bertemu Egi di tempat yang ia impikan. Meskipun ia tidak bertemu Egi disana, setidaknya ia sudah bertemu dengan jiwa Egi. Ia sangat yakin Egi ada disana. Hatinya yang keras dan optimis menguatkan niatnya, sehingga tidak ada yang dapat mengurungkan niatnya. Hati Dea dan Egi memang selalu tetap bersatu. Sehingga Dea sering merasakan, bahwa Egi sedang ada di dekatnya dan memperhatikan setiap gerak-geriknya.


Mobil Dea behenti di salah satu tempat yang indah. Hamparan rumput terbentang disana. Kelap-kelip bintang semakin terlihat. Bulan yang selalu mengingatkannya pada Egi seakan tersenyum melihat Dea yang gigih mengejar cintanya. Bila Egi melihat perjuangan Dea, Egi pasti akan sangat bangga, karena ia telah menemukan kekasih terakhirnya yang sangat mencintainya dengan tulus. Dea keluar dari mobil dan melihat keluar. Terlihat lampu-lampu rumah penduduk dari atas bukit ini sama seperti bintang-bintang yang berkelap-kelip di atas sana. Sangat indah. Ya, rupanya inilah tempat yang diimpikan Dea saat ini. Bukit Bintang. Dimana kita dapat melihat “bintang-bintang”di bawah dari atas bukit. Dea tersenyum bangga karena ia telah berada di tempat yang sejak dahulu ia impikan. Dea berbaring di hamparan rumput itu melihat bintang-bintang dan bulan. Ia memeluk buku diary-Nya dan barang-barang kenangan Egi dan Dea.


Lalu ia melihat ada seorang lelaki tampan yang menghampirinya. Dea pun duduk kembali. Ternyata itu adalah Egi ! Dea bahagia bukan main. Ia langsung memeluk erat tubuh Egi seakan tidak percaya keinginannya tercapai. Tubuh yang sudah lama ia tidak peluk, yang selalu ia rindukan tiap malam. Egi membalas pelukan Dea. Dea menangis di pelukan Egi. Dea mengatakan kepada Egi, bahwa ia sangat sayang pada Egi dan ia tidak dapat melepaskan Egi dari kehidupannya.

“ Selamat ulang tahun, Dea. Bulan diatas sana begitu indah. Hadiah dariku untukmu. ” Kata Egi sambil tersenyum. Dea sudah lama tidak mendengarkan suara lembut dan senyuman penuh kasih sayang Egi. Ia sangat rindu dengan senyuman Egi.

“ Terima kasih, Egi. Kamu sudah menepati janjimu. Tapi Egi… Kenapa kamu pergi meninggalkan aku? Disini aku sendiri. Hari-hariku selalu sepi. “ Ucap Dea menahan isak tangisannya di pelukan Egi.

“Aku bangga denganmu, De. Aku sering memperhatikanmu selama ini. Dan sekarang, lupakan aku, De. ” Jawab Egi

“ Kenapa? Bagaimana aku bisa melupakanmu? Tidak mau! ” Dea cemberut sambil menggelengkan kepala.

“ Jangan memusatkan sesuatu kepada satu titik yang sudah hilang. Karena hasilnya akan nihil. Bukalah pintu hatimu kepada yang baru, De. Bukalah lembaran baru. ” Kata Egi sambil mengelus-elus rambut Dea dan mengecup kening Dea. Dea menangis tersedu-sedu.


Kemudian Egi memberi tongkat es krim yang dulu pernah mereka simpan. Di setiap tongkat es krim tersebut terdapat huruf-huruf. Dan huruf-huruf tersebut membentuk kata “ CINTA ”. Dea menyimpannya di kotak kenangan mereka. Dea tersenyum dan mengecup pipi Egi. Egi memeluk tubuh Dea erat-erat akan tetapi semakin melemah dan melemah. Kemudian Egi pergi dari pandangan Dea. Lalu Dea berteriak agar Egi tidak pergi. Tapi tidak bisa. Dea ingin menangis tapi tidak bisa. Rasanya dada Dea sakit sekali menahan tangisannya. Tapi semua itu demi Egi, agar Egi bahagia.


Beep.. Beep.. Beep..


Bunyi dering pesan masuk dari handphone Dea. Membuat Dea terbangun dari mimpinya. Ia melihat pesan yang ada di handphone-Nya. Ternyata dari mamanya yang menyuruhnya pulang. Ia baru sadar, ternyata tadi hanyalah mimpi. Ia melihat sekelilingnya tidak ada Egi. Keringat dan air mata membasahi wajah Dea. Tapi sakit hati Dea tetap terasa. Dea menghembuskan napas. Ia membuka kotak kenangan mereka. Dilihatnya ada 5 tongkat es krim yang tadi ada di mimpinya. Ia kaget setengah mati. Ia mengambil dan menyusunnya menjadi kata “ CINTA “. Dea yakin, itu bukanlah mimpi dan bukan suatu kebetulan. Dea bahagia karena keinginannya telah tercapai dan Egi menepati janjinya. Dea tersenyum manis.


Tak lama kemudian, terdengar suara motor semakin mendekat. Dilihatnya lelaki memakai motor dan helm berwarna hitam turun menghampirinya. Gayanya cukup menarik. Dea semakin penasaran. Kemudian lelaki itu melepas helmnya. Dan Dea tak dapat berkata-kata. Tubuh Dea kaku seperti es. Dea memandang kearah lelaki itu. Matanya sangat mirip dengan Egi.

“ Dea? Ini Dio. Tadi Dio bertemu mamamu. Lalu ia menyuruhku untuk menemanimu disini. Boleh ? ” Lelaki itu berbicara pada Dea seakan itu adalah Egi. Ya, Dio adalah anak temannya Mama Dea. Dea heran ia bisa tahu namanya.

“ Hmmm.. Ya. Ya. Yaa… Tentu boleh. “ Ucap Dea terbata-bata. Sepertinya Dea sudah jatuh cinta kepada lelaki itu. Karena tatapan matanya mirip dengan Egi. Dea tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya dapat melihat kedua mata Dio dengan seksama. Dea pun tersenyum.


Ya, Egi benar. Kita jangan memusatkan sesuatu kepada satu titik yang hilang karena memang hasilnya akan sia-sia. Dan satu titik yang hilang tersebut tidak dapat kembali lagi seperti semula. Jadi kita harus membuka hati yang baru dan membuka lembaran baru untuk melupakan masa lalu kita.


Dan kini, Dea hidup bahagia bersama Dio. Keceriaan yang dahulu sempat menghilang, kini kembali merasuki ke dalam jiwa Dea. Canda tawa Dea kembali mengisi waktu luangnya. Dea tidak melupakan Egi, karena Egi bukanlah untuk dilupakan, namun cukup untuk dikenang. Kini hari-harinya diisi oleh Dio. Dea mencoba menyayangi Dio seperti ia menyayangi Egi.

***********************************Selesai****************************************************

2 komentar:

  1. g trlalu katro' n pasaran oq..
    tp ceritana g nyenggol bgt ama real life...
    lbh ke dongeng..

    tp yaaaa lumayan lah, secara tgs cerpen b.ind doank gtu loooh..
    hahagh.. prnah liat euro trip g asry??


    by.
    joemajesty@ymail.com

    BalasHapus
  2. Buy T-Shirt T-Shirt with Vitalian: The Benefits and How
    T-Shirt T-Shirt - Essential titanium wood stoves - T-Shirt # titanium build #21 babyliss pro titanium hair dryer - #2- T-Shirt #24- T-Shirt #26 titanium tv alternative - #29. 1. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. ecosport titanium 14. 15.

    BalasHapus